life is a journey

life is a journey
Tampilkan postingan dengan label Do'a. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Do'a. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2016

Soal Per-N-I-K-A-H-an



Akhir-akhir ini entah mengapa tema mengenai ‘pernikahan’ semakin sering ditanyakan orang pada saya. Waktu kuliah dulu kadang-kadang ada yang bertanya tentang hal ini. Tapi sekarang? Oh My God, hampir tiap hari. Oke fine!Haha mungkin memang udah usianya kali yah. Dan ternyata orang tua saya pun sudah mulai semakin gencar menyinggung-nyinggung hal itu saat mengobrol. Hemmm bagaimana rasanya? Haha yaaa gimana ya, kalau keinginan menikah pasti dong ada, tapi kembali lagi saya serahkan sama Allah. Siapa jodoh saya, kapan saya menikah, itu semua sudah saya serahkan kepada Allah. Saya nggak mau sok tahu untuk urusan ini. Jadi setiap ada orang yang mulai bertanya tentang hal ini, saya Cuma jawab sambil tersenyum, “Mohon doanya saja,,,” Kalau disegerakan alhamdulillah, kalau memang harus menunggu lebih lama lagi, why not? Semua sudah Allah atur. Saya cuma bisa terus berdoa dan berikhtiar untuk menjemputnya dengan terus memperbaiki dan memantaskan diri untuk bertemu sosok imam bagi dunia dan akhirat saya. ^^



Hei kamu! iya kamu... yang nantinya jadi jodohku, sabar yaaa menanti pertemuan kita. Aku masih terus memantaskan diri, semoga kamu juga begitu. Hingga Allah meridhoi pertemuan kita dan mempersatukan kita....^^

Di Jalan Ini Aku Melangkah



Selepas kuliah, ada tuntutan yang tanpa diminta namun rasanya menjadi sebuah ‘keharusan’ bagi diri saya pribadi agar ilmu yang didapat selama kuliah dapat diamalkan. Sempat merasakan magang selama kurang lebih 2 bulan di sebuah bank syariah, sehingga saya merasakan sepertinya dunia kerja seperti ini tidak cocok bagi saya. Ada-hal-hal prinsipil yang tidak dapat saya temukan disana. Inilah yang membuat saya sangat pemilih dalam memutuskan ingin bekerja dimana. Prinsip saya bahwa bekerja tidak hanya untuk mencari rizki, tapi juga mencari keberkahan dan keridhoan Allah akan segala hal yang kita kerjakan di dunia ini. Hehe berat memang. Tapi saya seorang yang memegang prinsip. Dan prinsip itulah yang selalu membuat saya memiliki batas akan hal-hal apa saja yang bisa saya lakukan dan tidak bisa saya lakukan.  

Awalnya saya ingin ‘banting setir’ dari dunia akuntansi, ingin mencari pekerjaan sebagai seorang editor buku (kembali ke hobi saya). Namun ternyata takdir berkata lain, sepertinya memang harus ada ‘pengamalan’ dari ilmu yang diperoleh selama kuliah. Daaaannnn kini di sebuah yayasan pendidikan yang fokus pada tahfidz quran, saya bergabung disana sebagai seorang admin keuangan di divisi TK, TAUD dan Kursus Tahfidz. Awalnya saya tidak mengira bahwa akan menjadi seorang admin keuangan di sekolah, ternyata ini salah satu jawaban dari Allah. Dulu saya pernah memiliki keinginan, jika memang harus bekerja di bidang akuntansi, saya ingin bekerja di sekolah (TU) dan inilah jawaban Allah dari keinginan itu. Dan alhamdulillah ini jauh lebih baik dari ekspektasi saya. Disini tidak hanya sekedar sekolah bagi anak-anak tapi juga menjadi sekolah bagi saya. Malu rasanya ketika melihat anak usia balita sedang bermain sambil menghafal Quran, tapi saya yang sudah sebesar ini? Ah seperti ditampar bolak-balik.

Tidak hanya itu saja. Saya semakin betah disini saat diberi tawaran untuk mengajar anak-anak yatim yang juga mondok di sana. Yayasan ini memang memiliki program tahfidz juga untuk anak-anak yatim piatu di sekitar daerah yayasan. Ada 23 anak dari usia 5 tahun hingga usia SMP. Saya memang tidak mempelajari agama secara khusus kecuali saat mondok dulu, jadi insya Allah ada sedikit bekal ilmu yang bisa saya bagikan kepada anak-anak. Pembentukan karakter dan akhlak yang diutamakan dari pengajaran ini, sehingga bismillah saya terima tawaran untuk mengajar PAI. Dan dijadikan guru badal jika guru-guru lain tidak bisa hadir. Hingga jam kerja yang tadinya dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore, kini ditambah dengan mengajar anak-anak dari jam 4 hingga setengah 6 sore. Lelah memang. Setelah seharian bekerja, kemudian dilanjutkan mengajar di sore harinya. Tapi walaupun lelah, hanya fisik saja yang merasakan. Hati ini selalu merasa senang setelah selesai di hari itu. Memberi sedikit ilmu yang saya punya, melihat senyum mereka saat belajar, mendengar cerita dan celotehan mereka, ah sesuatu yang membahagiakan bagi saya. Ada satu kepuasan yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain. Dan hanya ucapan syukur atas takdir Allah saya bisa dipekerjakan di sini dan dipertemukan dengan mereka. Belajar banyak hal dari mereka, terutama tentang rasa syukur yang seringkali luput dan terlupakan atas semua nikmat yang Allah beri dalam kehidupan saya.

Selain dengan anak-anak pondok yang semakin hari semakin saya cintai, disinipun saya bekerja dengan orang-orang yang luar biasa. Orang-orang sederhana dengan pemikiran luar biasa mereka yang selalu membuat saya kagum. Walau dengan berbagai keterbatasan yang ada, mereka terus bersatu dan bergerak maju. Hal ini seringkali membuat saya malu. Apa yang sudah saya berikan untuk perjuangan bagi agama ini???? Ah kembali ditampar untuk hal ini. Allah Allah Allah...Robbighfirlii...
Kesempatan untuk bergabung dalam perjuangan ini, bergerak dan maju bersama orang-orang luar biasa ini adalah suatu hal yang sangat saya syukuri. Terima kasih ya Allah, semoga kisah indah ini akan terus berlanjut. Walaupun jalan ke depannya tidak akan selalu mudah, tapi saya selalu yakin bahwa Allah pasti akan menolong orang-orang yang berjuang untuk agama-Nya.


_15 mei 2016, malam hari di Bandung yang mulai terasa semakin dingin _

Sabtu, 28 Maret 2015

Untukmu, Yang Tak Kutahu Siapa Kamu



Aku tak pernah tahu siapa kamu

Kamu yang nantinya akan menemani di sisa hari-hariku

Aku bukanlah orang baik

Tapi aku akan berusaha menjadi baik, setidaknya untuk orang-orang yang kusayangi nyaman bersamaku

Seringkali aku bertanya-tanya dalam hati

Setiap kali dipertemukan dengan seseorang yang baik

Apakah itu kamu?

Namun, sepertinya hanya kamu yang nantinya akan membuat hatiku bergetar

Bukan hanya hati, namun juga keyakinan yang dalam

Karena yang kutahu, kita bisa bersama bukan karena lamanya waktu kita saling mengenal

Tetapi, seberapa yakin aku bisa bersamamu?

Keyakinan yang nantinya akan melahirkan kepercayaan, kesetiaan dan kasih sayang yang seharusnya ada dan akan terus bertumbuh

Karena aku yakin,

Ketika dua insan yang berbeda kemudian dipersatukan

Maka untuk saling mengenal dan memahami tidaklah cukup dengan satu, lima atau sepuluh tahun

Tapi lebih dari itu

Mungkin hingga seumur hidup pun kita tak akan bisa saling mengenal dan memahami seutuhnya

Oleh karena itu,

Aku selalu berharap, ketika kita dipertemukan nanti

Aku dan kamu memiliki satu tujuan yang sama

Agar nantinya, kehidupan yang akan kita arungi

Akan selalu dapat kita lewati walau bagaimanapun badai yang menerjang

Dan kini, hanya do’a-do’a yang senantiasa terlantun agar keridhoan-Nya lah yang akan menjadi tujuan kita.

* Bandung, 28 Maret 2015

Senin, 26 Agustus 2013

Ah, Surga Masih Jauh..



Ah, surga masih jauh. Jauh, bahkan sangat jauh.

Ketika kehidupan memberi alasan untuk meneriakkan kebebasan, justru di belahan bumi sana saudara saudara kita hidup dalam tekanan dan penderitaan. Ada yang berada dalam tekanan pemerintahannya sendiri yang dialami saudara kita saat ini di Mesir. Ada yang bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun memperjuangkan kemerdekaan bangsanya yang berada dalam tekanan kafir laknatullah. Ada yang sampai diusir dari negaranya sendiri karena tidak diakui kewarganegaraannya. Tapi yang kudengar, bahwa mereka terus melahirkan generasi-generasi penghafal quran. Mereka bertahan dengan segala keterbatasan hidup yang senantiasa dicekam ketakutan, entah 1 menit ke depan apakah kemerdekaan itu masih bisa mereka angankan dan perjuangkan. Mereka bertahan dengan keyakinannya untuk membela kebenaran yang mulai tertutupi oleh kezaliman penguasa.Dan mungkin sampai saat ini, di negara kita sendiri masih banyak saudara kita yang berada dalam tekanan, walau mungkin tak terekspos media.

Saya pernah menjadi saksi dari kisah sahabat saya sendiri yang akhirnya keluar dari pekerjaannya karena gerak lingkupnya di perusahaan yang mengekang karyawannya untuk melaksanakan kewajiban 5 waktunya. Padahal kebebasan untuk beribadah sudah diatur dalam undang-undang. Dia takut pada Rabb-nya bila terus meninggalkan kewajibannya, dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar. Padahal saat itu saya tau dia sangat membutuhkan pekerjaan tersebut. Awalnya dia berada dalam dilema yang mungkin terberat dalam hidupnya apakah dia tetap bisa mendapatkan pekerjaan kembali di zaman yang serba ‘menyulitkan’ ini. Namun dengan keyakinannya bahwa rezeki bisa datang dari arah manapun yang Allah kehendaki ,maka dia pun keluar dengan hati yang luar biasa lapang. Dia ceritakan bagaimana kini hatinya luar biasa tentram walau harus menjadi pengangguran, namun dia yakin Allah kan mengganti semua itu dengan hal yang jauh lebih baik dan lebih indah dari apa yang pernah dia raih sebelumnya.

Ah, ku rasa surga semakin jauh. Jauh dari ibadahku, jauh dari kesabaranku, jauh dari pengorbananku, jauh, jauh, jauh....

Mungkin langkah kaki ini tak kan pernah sampai ke tanah saudaraku di sana. Suara orasi pun, aku tak pandai untuk bisa meneriakkannya seperti mereka yang melakukan aksi solidaritas di mana-mana. Aku hanya seorang saudara yang mungkin hanya bisa menangis dan menjerit mendengar berita-berita itu di media. Namun dengan keyakinan terkabulnya do’a sebagai senjata terkuat sorang muslim, tak henti dalam tiap shalat ku selipkan do’a untuk saudara-saudaraku di sana.

Robbana, jadikan saudara-saudaraku di manapun mereka berada yang terus berjuang dan bertahan pada diin-Mu bisa semulia para sahabat terdahulu. Yang dengan gigihnya, dengan sabarnya, dengan segala yang mereka punya terus bertahan dan berjuang dalam segala keterbatasannya. Aku seringkali bertanya ya Allah, mengapa tidak Kau hancurkan dan binasakan mereka yang menindas saudaraku dan bahkan agama mulia ini seperti saat dulu Kau binasakan pasukan bergajah Abrahah yang ingin menghancurkan kakbah? Mengapa tidak ya Allah? Ku yakin kuasa-Mu, tak pernah kuragukan itu. Namun lagi-lagi jiwa pendosa ini menghalangi semua tanya itu kembali pada perenungan panjang diri sendiri.   

Ah, surga masih jauh...

Perenungan ini mengembalikanku pada kenyataan diri yang hina ini.
Robbana...Engkau tahu bahwa jiwa pendosa ini masih mecoba untuk bisa memperbaiki diri. Ibadah yang minim dan tak khusyuk ini sepertinya belum layak kupersembahkan. Perjuangan untuk menahan hawa nafsu ini hanya sekedar janji manusia hina yang tak pantas menerima setelah semua karunia-Mu. Bahkan menutup auratpun belum bisa sempurna seperti akhwat-akhwat luar biasa yang begitu ku kenal dan kukagumi dengan dakwahnya. Namun harap dan do’a dari diri yang hina ini tak pernah henti diucap dan dihaturkan. Berharap Kau bisa kabulkan do’a dan harap ini. Istiqamahkan hati ini selalu, sampai tiba akhir waktu di dunia ini...

Ya Allah jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikan amal terbaik hamba di penghujungnya, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu dengan-Mu...

#bandung, 26 agustus 2013

Minggu, 09 Juni 2013

TAKUT

Ada saat dimana kita takut untuk melewati saat-saat tertentu.

TAKUT untuk menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapan.

TAKUT jika harus menghadapi kegagalan karenanya.

TAKUT jika harus melihat gurat kesedihan di wajah orang tercinta.

TAKUT jika harus terjatuh dan terluka

TAKUT dengan tatapan sekitar yang akan mencemoohmu

TAKUT  dengan segala konsekuensi khayalan yang mungkin..mungkin..

TAKUT untuk berada di zona tidak aman tersebut

TAKUT TAKUT TAKUT...

Tak bisa yakinkah untuk mengusir segala keTAKUTan itu???

HEI!!! Lihat dirimu sekarang, kau telah membuktikan bahwa kau bisa bertahan hingga saat ini.

Tanpa kau sadari kau telah melewati semua ke TAKUTan itu.

Walau pasti di depan sana, masih banyak ke TAKUTan lain yang menanti dan akan menghadangmu.

Kau telah membuktikan kau telah meenjalaninya dan betapa kau mampu untuk terus melangkah ke depan, melewati dan menghadapi semua keTAKUTan itu.

#mengapa harus takut dengan halangan-halangan kecil itu jika kita punya ALLAH SWT Yang Maha Besar???
Allah tak menciptakan beban tanpa pundak yang kuat untuk memikulnya...
Laa yukallifullaahu nafsan illa wus'ahaa...

Minggu, 07 April 2013

Renungan Malam Ini



Heeeiiii sudah lama daku tak nongol di blog ini...haha..gatel niih pengen banyak ceritaaa...(eits, susah sepertinya kalo diungkapkan dengan kata-kata dalam space kecil di blog ini. Nantilah, suatu saat ingin bikin buku seperti mbak oki setiana dewi, aamiin ya Allah...)
Setelah sekian lama sibuk (lebih tepatnya menyibukkan diri) dengan segala kegiatan yang lumayan menguras waktu, tenaga dan fikiranku (Huah jadi lebay, hehe..). Mulai merasa nyaman dan menikmati rutinitas ini (bismillah..mudah2an Allah ridho...).
Sedikit banyak dengan seringnya berkumpul bersama orang-orang yang luar biasa, membuat motivasi tersendiri dalam diriku untuk bisa menjadi seorang yang luar biasa pula. Walaupun terkadang seringkali merasa minder , hehe. _____
###
Ah, bingung mau nulis apa,judul postingannya juga suka-suka yang nulis, wkwkwk. Hemmm...tentang malam ini saja kalo begitu...wkwkwk.
Malam ini Allah kembali menurunkan rahmat-Nya melalui hujan...
“Allahumma Shoyyiban Nafi’a”....
Ahh, aku paling suka dengan hujan. Saat hujan, aku bisa merenungkan sesuatu dengan perasaan yang lebih jernih dan tentram.  Apalagi yang turun malam-malam. Menambah rasa nyaman untuk beristirahat. Hehe...jadi nyenyak tidurnya  ^_^.
Pasar di daerah tempat tinggalku saat ini pun, seringkali banjir jika hujan deras turun. Hehe..punya pengalaman harus menempuh perjalanan dengan menembus banjir selutut, sesuatu sekali..ckckck.
Tapi, apakah benar rahmat Allah ini juga bisa mendatangkan bencana???
Seperti yang  terjadi beberapa waktu lalu. Banjir yang melanda daerah-daerah di Indonesia. Sudah hampir mendekati  sebulan bencana ini terjadi. Dan volume air yang menggenang ini sedikit surut namun kemudian naik lagi seiring dengan hujan yang turun terus menerus.
Hal ini menjadi topik utama saat itu di negara kita. Banjir di mana-mana. Bahkan istana negara pun ikut kebanjiran. Ku saksikan di televisi bagaimana keadaan para pengungsi, presiden yang harus menggulung celananya saat berada di istana negara (baru melihat hal seperti ini), dan berita-berita lainnya tentang banjir di negara kita.
Dan saat ini hal itu kembali dirasakan oleh saudara-saudara kita di beberapa daerah, salah satunya di kabupaten bandung dan aceh...(berikan ketabahan pada saudara-saudaraku ini ya Allah...)
Ada yang bertanya saat itu, siapa yang harus disalahkan??? Salah siapa ini???
Heii, sepertinya pertanyaan itu tidak tepat untuk ditanyakan. Tidak ada yang perlu disalahkan. Dan jangan saling menyalahkan. Apalagi banjir ini sudah seperti rutinitas dalam negara kita pada musim penghujan seperti saat ini. Saat ini tidak untuk mencari siapa yang salah. Menyalahkan Kita, dia, mereka, bahkan hujan itu sendiri. Atau mungkin ingin menyalahkan yang menurunkan hujan?? Astaghfirullah....
Inilah yang harus dibenahi. Perasaan memiliki. Untuk menjaga lingkungan dan mensyukuri rahmat yang Allah turunkan melalui tiap tetes hujan yang jatuh ke bumi..

#listening nasyid 'Dekatkanlah'_Awan.